Tuesday, November 22, 2005

Mertua

Oleh Leila Ch. Budiman

PERILAKU ayah dan ibu dari suami atau istri tidak selamanya nyaman. Banyak pasangan menderita karena mereka.

Semua "dibetulkan" mertua -- "Serita" di rumah. (Juga buat "Ms Scorpio" yang selalu dicela nyentrik dan tomboy oleh kubu ipar dan mertua serta dikucilkan).

"Bu Lei, saya hampir putus asa menghadapi ibu mertua saya. Mungkin di matanya saya selalu serba salah, ya Bu. Apa saja yang saya lakukan atau kenakan, tidak ada yang betul. Pakaian saya selalu disebut kuno, terlalu tidak modis, seperti orang tua. "Masih muda kok pilih warna gelap." Dandanan saya terlalu sederhana. "Nanti kalah dari sekretaris suamimu, atau kalah dari pembantu."

Makanan yang saya masak juga terasa tidak enak. Kalau tidak kurang garam, maka kebanyakan garam. Merebus kurang hijau, membuat kopi kurang manis, tertawa saya juga terdengar aneh. Saya sudah jenuh. Anehnya suami saya diam saja, bahkan dia membela ibunya. Dia bilang ibunya memang pandai memasak, bumbunya pas. Dalam hati saya marah, "Pergilah sana ke ibumu. Kenapa menikah dengan saya?" Kalau sudah begini rasanya saya malas mau melakukan apa saja. tak ada yang beres pada saya. Saya betul-betul sudah jenuh. Kalau begini terus, saya bisa jadi gila Bu ..."

Anak gagal, mantu dimaki -- Ny S di Bdg

" ... Kami sudah menikah lima tahun Bu, dan dikaruniai dua anak. Kami sama-sama bekerja. Saya mengajar di perguruan tinggi dan suami saya berwiraswasta. Meskipun dua-duanya bekerja, hidup kami pas-pasan saja.

Jika ingin berterus terang, sebenarnya sayalah yang membiayai rumah tangga kami. Sampai sekarang usaha suami sering gagal, sebab ia terlalu sering berganti-ganti usaha. Anehnya mertua saya (terutama ibu) senantiasa mempersalahkan saya dalam kegagalan anaknya. Saya dikatakan tidak bisa mendidik suami sampai berhasil. Lho, suami kan hasil didikan mereka, mengapa saya yang dipersalahkan? Saya sudah cukup tertekan karena ketidakberhasilannya, sehingga saya harus bekerja ekstra keras untuk rumah tangga kami. Saya juga sangat ingin ia berhasil seperti saudara-saudaranya yang lain. Lebih tidak enak lagi, anak kami pun tidak diperhatikan, sampai sakit pun tidak ditengok.

Orangtua saya tentu tidak terima dengan sikap mereka. saya pun tidak rela dipersalahkan terus, sehingga keadaan tegang dan sering terjadi clash. Suami saya sebenarnya tahu orangtuanya tidak benar, tetapi dia diam saja. Saya sangat tertekan oleh sikapnya Bu ..."

Jawaban:

Ny "Derita" dan S yang sedang sedih,

Tentu tidak enak jika pakaian kita, tutur kata serta masakan yang telah kita siapkan dengan susah payah senantiasa dicela. Apalagi sampai kegagalan anak mereka pun ditimpakan kepada diri kita. padahal saya yakin sebagai ibu dan istri Anda telah berusaha keras membina kebahagiaan perkawinan. Siapa sih yang mau perkawinannya gagal?

Terus terang, sebenarnya tiap orangtua yang sudah bersedia menikahkan anaknya seharusnya siap pula menerima 1001 perbedaan menantunya. Kebesaran hatinya diminta untuk menerima cara berdandan, tutur kata dan cara tertawanya yang agak aneh. Idem dito bagi sang menantu. Mereka pun harus menerima dengan lega hati kebiasaan dan pribadi mertuanya, alias tidka usah goncang ketika dapat yang agak cerewet.

Untungnya ada satu kesamaan tujuan, kedua kubu (anak maupun ortu) mendambakan kebahagiaan perkawinan itu. Namun peranan ortu tidak lagi jadi "kapten kapal" dalam perkawinan putranya, dia hanya penumpang saja. Bukankah gilirannya sebagai kapten sudah dilaksanakan dalam perkawinannya sendiri? Jika sedang berkunjung, jadilah penumpang yang sopan, jangan terlalu banyak mengatur. Bukankah Anda pun tidak rela diatur mertua dulu, juga tidak rela jika besan merajalela dalam perkawinan anaknya?

Perjuangkanlah kebersamaan pasutri (pasangan suami-istri). Pasangan muda belum terbiasa membela dirinya sebagai pasutri. Masing-masing masih merasa lebih dekat dengan orangtua dan kakak-adiknya sendiri. Pasangan baru perlu belajar saling bela dan mendidik keluarganya untuk menerima pasangannya. Sudah tentu dengan tidak ikut mencela atau mengucilkan pasangannya, tapi bersikaplah arif dan luwes.

Misalnya ketika Ny S dipersalahkan mertuanya dalam kegagalan suaminya, sang suami patut membela istrinya di hadapan ortunya. "Sayalah yang salah Bu, bukan "Dinda". Dia sudah mendorong saya untuk maju, justru "Dinda" telah menyelamatkan kehidupan keluarga dengan bekerja keras."

Sedang suami Ny Derita wajib membela istrinya ketika pakaian dan cara dandan istrinya dicela, dianggap kuno (tomboy, aneh dsb). "Dia memang lugu (tomboy, nyentrik dsb). Itulah yang menarik hati saya."

Jika hanya dirinya yang diminta datang ke pesta keluarga dan pasangannya tidak diundang, pasutri berhak menolak dengan alasan, "Saya tidak sampai hati meninggalkannya sendirian saja."

Sebaliknya pasutri pun perlu mengusahakan agar pasangannya lunak, mau menerima ortunya, bagai "stabilisator" yang mengatur voltase tinggi untuk dapat diterima oleh hati yang gundah. Suami Ny Derita yang istrinya sering dicela tidak dandan, dapat menyodorkan apologi untuk orangtuanya. "Maafkan orangtua saya Dik. Tampaknya mereka tidak mau kehilangan engkau. Mereka minta adik lebih berdandan agar saya tidak disambar orang lain. Hanya caranya tidak taktis. Semakin tua mereka, semakin seperti anak kecil, jadi egosentris. Kita pun akan begitu kelak."

Kiat lain yang dapat berguna adalah bersahabatlah dengan mereka. Bukan hanya menantu pada mertuanya, juga sebaliknya. Jika kita mengenal mereka lebih dalam, mengetahui suka-duka dan perjuangannya, dapat menghayati cita-citanya, kita dapat lebih mengerti dan bersimpati. Syukur jika ada kegemarannya yang cocok. Ini melicinkan jalan simpati.

Akhirnya jika orangtua dan keluarga besar sadar bahwa pasangan suami-istri anak-anak mereka ternyata saling mencintai dan saling membahagiakan, mereka pun senang pula. Bukankah itu yang didambakan setiap orangtua?

source: http://www.kompas.com/kesehatan/news/0504/06/095225.htm

2 Comments:

Blogger mertua indah said...

senang sekali ada blog mengenai mertua..hayoo rame2 curhat yukk :) Ternyata semua Mertua sifatnya hampir mirip2 ya, sampai ada kategori segala haha..

3:47 PM  
Blogger Ms Andrie herlina┬« said...

This comment has been removed by the author.

8:38 PM  

Post a Comment

<< Home