Wednesday, November 16, 2005

Konflik Tinggal di Rumah Mertua Indah

Rasanya hidup berumah tangga memang lebih sempurna ketika kita memiliki rumah sendiri sehingga kitapun dapat mengatur rumah dan keluarga sesuai dengan keinginan kita, tanpa ada campur tangan pihak lain.

Tak jarang banyak pasangan-pasangan baru yang tinggal dirumah mertuanya. Hal ini banyak menyebabkan rasa kecewa khususnya wanita, karena keinginan yang telah menjadi syarat di awal pernikahan tersebut ternyata tidak juga dikabulkan oleh suami. Kenginan untuk segera keluar dari rumah mertua juga tak kalah besarnya. Tetapi bagaimanapun juga dengan kesabaran tentu semuanya akan menjadi lebih baik.

Mungkin memang tidak mudah untuk melakukan hal itu karena kesabaran memang bukan sesuatu yang mudah dijalani. Jika kita merasa keberatan tinggal bersama mertua karena beliau terlalu banyak ikut campur atau bahkan cerewet, maka diskusikanlah hal tersebut dengan suami. Mungkin suami dapat mencari jalan keluar untuk berbicara secara baik-baik dengan ibunya agar bisa memahami kemandirian yang ingin dibangun dalam keluarga.

Namun pernikahan memang bukan sesuatu yang bisa selalu diukur dengan sebuah hitungan atau sebuah kepastian. Seperti yang telah banyak terjadi, bahwa sebelum menikah banyak wanita sudah lebih dulu mengajukan syarat untuk tinggal terpisah dengan mertua. Namun kenyataannya karena kondisi, keuangan atau bahkan karena permintaan dari mertua, maka mau tak mau harus tinggal di rumah mertua indah.

Pastikan adanya ikatan yang baik dari semula

Ada baiknya jika kita sudah dari jauh-jauh hari membina hubungan antara menantu dengan mertua dengan baik. Mencoba memahami keinginan dari ibu mertua kita, toh tidak ada salahnya. Jangan mudah marah karena hal-hal remeh. Tunjukkan kepada ibu mertua penghormatan Anda melalui hal-hal kecil seperti memuji masakannya, dan sebagianya. Manfaatkan waktu dengan ibu mertua, untuk belajar hal-hal yang berguna yang patut kita ketahui dan pelajari setelah membina rumah tangga nantinya.

Untuk memastikan adanya ikatan yang baik sejak awalnya, ada baiknya kita untuk mencari tahu sebanyak mungkin tentang keluarga suami dan peraturan-peraturan mereka yang tidak tertulis. Sebaiknya, sebelum menikah, dibahas dahulu dengan calon suami mengenai peranan-peranan nanti sebagai menantu. Tentukanlah rencana atau strategi yang masuk akal untuk menangani konflik-konflik itu bersama suami. Saling menghormati, penting adanya

Menantu perempuan

Menjadi menantu perempuan bisa penuh dengan kesulitan yang tersembunyi. Berikut tips untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan mertua.

Mintalah pertolongan suami Anda dalam memahami ibunya. Sensitiflah terhadap posisi sang ibu.

Cobalah membangun kesenangan yang sama dengan ibu mertua Anda, sesuatu yang dapat dinikmati berdua.
Doronglah terjadinya hubungan yang baik antara suami Anda dengan ibunya, walaupun hal itu berarti Anda tidak termasuk di dalamnya.
Bila ibu mertua tidak pernah diberitahu bahwa sesuatu yang dia lakukan tidak menyenangkan Anda, bagaimana dia bisa tahu ada yang salah? Katakanlah terus terang tapi tidak menyakitkan caranya.
Bijaksanalah terhadap tuntutan mertua. Mungkin dia ada benarnya.
Dalam saat-saat konflik, tenangkan diri dahulu sebelum Anda menghampiri ibu mertua.
Perlihatkan kepadanya bahwa Anda dan suami adalah tim yang kompak.
Ingatlah bahwa dia adalah ibunya suami Anda. Tidak mungkin segala hal seburuk yang Anda duga.

Bagi sebagian pasangan, permasalahan hubungan antara menantu dengan mertua seringkali menjadi pemicu timbulnya konflik antara suami dengan istri atau sebaliknya. Meksipun di masa kini sudah banyak pasangan yang tidak lagi tinggal serumah dengan mertua, namun hal tersebut bukan berarti bahwa masalah menantu mertua tidak lagi terjadi. Dalam menyikapi masalah menantu dengan mertua, mungkin banyak wanita yang tak mau ambil pusing atau bahkan tidak peduli. Awalnya sikap-sikap tersebut mungkin bisa berhasil atau mungkin dianggap sebagai hal yang biasa, tetapi jika tidak segera disadari dan diambil tindakan nyata, maka cepat atau lambat permasalahan ini tentu akan memiliki dampak yang tidak menyenangkan baik bagi mertua dan menantu maupun bagi seluruh anggota keluarga besar.

Interospeksi diri

Lakukan introspeksi diri secara mendalam. Ingatlah bahwa setiap perselisihan pasti melibatkan lebih dari satu orang dan dalam hal ini tidak ada yang tidak bersalah. Oleh karena itu, jika sebelumnya Anda cenderung memikirkan setiap hal secara negatif dan selalu menyalahkan orang lain, cobalah sekarang belajar sedikit demi sedikit melihat permasalahan secara obyektif. Mulailah dengan mengubah pola pikir anda. Selain itu cobalah belajar untuk tidak menghakimi atau menilai orang lain dengan nilai-nilai yang ada dalam diri sendiri. Sebab jika cara seperti itu yang anda gunakan maka akan sulit bagi anda untuk memulai inisiatif penyelesaian masalah dengan mertua dan menantu. (Weddingku.com)

5 Comments:

Blogger reni said...

harus banyak sabar dan mengerti. Walaupun sering makan hati

6:38 PM  
Blogger Mohd Mutiee said...

mak mertua 2 pon maknusia jgk.ad hati dan perasaan...bila kita baik ngan dia automatik dia akan baik ngan kita..WALAUPUN memula tu cam ssh ckit..tp lelama ok la 2..

1:28 AM  
Blogger ainzha shop said...

Hadduuuuh,,, puyeng udah setahun tetep ga bisa sejalan. Saya bekerja, dari pagi sampai petang dikantor. Pulang kerunmah sedah lelah, kadang sudah ga sanggup bantu2 sedangkan mertua ga suka ada pembantu. Gimana dong?

11:27 PM  
Blogger ainzha shop said...

Hadduuuuh,,, puyeng udah setahun tetep ga bisa sejalan. Saya bekerja, dari pagi sampai petang dikantor. Pulang kerunmah sedah lelah, kadang sudah ga sanggup bantu2 sedangkan mertua ga suka ada pembantu. Gimana dong?

11:31 PM  
Blogger ayu said...

hal yang terlihat mudah namun sulit. tidak jarang apa yg kita kehendaki brbeda dengan mertua.dan ada kalanya ketika kita berbicara kepada suami ttg keluhan kita, suami tidak bisa menerima malah selalu membenarkan dan menuruti kata2 mertua...........intinya kl tgl dg mertua, siapin mental dan hati aja

6:33 PM  

Post a Comment

<< Home