Wednesday, October 26, 2005

Mitos Keabadian Ibu

Oleh: Karlina Supelli (Majalah Pesona, November 2005)

Betapapun ingin melindungi, seorang ibu tidak pernah bisa memilihkan bagi anak-anaknya sebuah dunia siap-jadi untuk dinikmati.

.... Setiap ibu bercita-cita melahirkan pahlawan budiman cendekia. Hanya saja masa depan bisa jadi berisi cerita Calon Arang. Ibu yang dikhianati putrinya yang jelita Ratna Manggali, tetapi tergoda cinta suami; namun yang kemudian memungkinkan si ibu menjalani penyucian dosa. Atau menghadirkan Malin Kundang yang pulang kampung ingin pamer keseksesan; karena risih memiliki ibu renta dan sengsara malah lalu memperoleh kutukan.

Kita tidak tahu. Masa depan tidak pernah ada sebelum kita tiba di sana. Boleh jadi ini pula alasan orangtua tidak berhenti menasehati. "Berdoalah untuk anak-anakmu". Dan kita tidak bisa lain kecuali tidak letih berharap, semogalah "Gusti Allah tidak tidur," dan mendengarkan doa manusia (Ungkapan sederhana "Gusti Allah ora sare" merupakan pernyataan keyakinan kuat orang Jawa bahwa TUhan tidak pernah tinggal diam menghadapi apapun polah tindak manusia.

Doa tentu tidak cukup. Ibu punya karya betapapun itu tinggal masa lalu yang ia rawat dalam ingatan. Ingatan menatih anak berjalan pertama kali, mengajari mereka berdiri di atas kaki mungil mereka sendiri, bukan dengan tubuh menghada ke ibu, melainkan membelakangi. Mengajarkan seorang anak kecil berjalan dengan membimbingnya dari belakang bukan semata perkara melatih teknik melangkah. Upacara 'turun tanah' yang lazim dirayakan di beberapa daerah Indonesia sarat makna. Itulah saat simbolik ibu melepas anak dari gendongan untuk menghadapkannya ke dunia terbuka. Bisa jadi anak hanya tegak berdiri lalu membalik ke pelukan ibu. Bisa juga ia melangkah tetapi terjerembab. Ia berdiri lagi, terjatuh lagi, lalu berlari.

Ibu semata membuka ruang kemungkinan berisi keragaman yang sebagian besar tidak pernah ia sendiri dapatkan. Betapapun ingin melindungi, tidak pernah seorang ibu bisa memilihkan bagi anak-anaknya sebuah dunia siap-jadi untuk dinikmati. Mereka bukan tawanan masa depan sang ibu. Mereka merajut benang mimpi ke dalam ruang waktu mereka sendiri....

... Para ibu khawatir ingatan anak-anak terhadap mereka tidak sekuat harapan mereka. Anak-anak gelisah karena tidak mengerti tuntutan dan tindakan ibu, sementara sadar bahwa mereka akan terus mengecewakan ibu. Betapapun akrab mereka menjalin persahabatan, betapapun berbagi kisah cinta dan teman, selalu ada kemarahan tersimpan. Selalu tersisa salah paham antara apa yang ibu rasa merupakan kewajiban, dan yang anak harap dalam kebutuhan. Ketika mengintip buku harian merupakan pelanggaran terbesar yang dilakukan ibu terhadap kerahasiaan pribadi anak, bagi ibu boleh jadi ini ibarat semata menyiapkan masakan yang layak.

'Perpisahan' ibu dan anak merupakan ritual yang ditunggu bersama. Ada sorak tetapi juga awan kecemasan yang menggantung dalam masing-masing benak. Ketika anak demikian menyita perhatian, ibu terengah. "Kapan mereka bisa mengerjakan sendiri semuanya?" Ketika saatnya tiba, ia gelisah. Masihkah ibu punya kontrol atas dunia apapun yang dimasuki anak sesudah perpisahan? Ia ingin anaknya bahagia. Ketika anak menikah, ia resah. Entah karena seorang perempuan lain kini mengambil alih hampir semua fungsi yang ia pernah jalani; entah karena seorang laki-laki 'asing' kini memandu hidup putrinya. Ketika cucu lahir, nenek ingin segera melompati pagar sebuah kawasan yang sesungguhnya hanya boleh ia masuki dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

Anak-anak tidak berbeda. "Kapan aku cukup dewasa untuk bisa pergi dari rumah? Kapan aku punya kontrol sendiri atas hidupku?" Seraya mengucapkan selamat tinggal kepada ibu, mereka diam-diam menyimpan harapan. Ibu bahagia kala harapan menjadi kenyataan. Sekalipun itu mungkin hanya ketika anak sedang amat berduka atau sedang sangat bergembira. Selebihnya adalah kawasan yang tidak lagi bersentuhan melalui indera kecuali sesekali. Tentu bukan perkara abai, melainkan kegagapan berkeluarga atau bekerja seperti yang juga mungkin pernah ibu alami.

Di tengah keletihan menjalankan fungsi ibu, diam-diam ia impikan kebebasan..... Tetapi tidak mudah mencintai kebebasan. "Sejak mereka lahir, aku berjerih payah mempersiapkan anak-anakku untuk bisa hidup mandiri, untuk bisa hidup tanpa aku, ibunya. Saat itu sudah tiba... diam-diam kita meratapi kemandirian mereka. Diam-diam kita berharap mereka selalu bisa kita rayu dengan kidung agar mau kembali ke pangguan untuk terlelap sebentar, seperti kala leh=lah bermain ketika mereka masih bocah.

Bagaimanapun anak-anak adalah daya hidup itu sendiri. Ketika kehidupan akhirnya meminta mereka, ibu jatuh dari mitos keabadian Sang Ibu. Ia semata penghubung garis kehidupan dan tiba masa kehidupan berlanjut, dengan atau tanpa dia.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home